Genangan Yang Terbuang

 Air mata takkan berarti pasti

Buasnya suara yang telah mati

Berjalan tanpa arti,

Selalu menyusuri

Tak ada satupun yang besedia,

Menjadi seorang saksi


Sejauh apapun berlari

Tetap di ikuti

Satu hal pasti

KONSEKUENSI


Mematikannya jalan panjang nan sepi

Bercucurnya keringat tepat ditengah dahi

Air mata sebagai penanda mati

Sebuah suara yang menuntut belas kasih


Hujan yang deras

Telah menandakan akhir dari perjuangan keras

Salahkan orang lain yang tak berbelas

Sedangkan mata berkedip tak jelas

Air mata jatuh tak pernah selaras

Berpikir adanya jalan pintas

Melawan kekejaman orang atas


Dengab kata yang berarti sama

"ORANG" tak patut disalahkan

Banjirnya tanggung jawab

Menenggelamkan kelalaian

Atas sebuah tindakan tanpa alasan

Tanpa materi dan logika pasti

Hanya berpaku pada ekspetasi

Mengubur realita yang sesungguhnya menanti


Pernakah sebatang kayu berpikir

Daun layu yang terlintir

Akar yang menjadi kambing,

Dari sebuah lembaran hitam yang merintih


Banjir yang kejam telah menenggelamkan

Batang kayu yang mengapung memberontak

Bangkai bernyawa yang menjijikkan

Buas dalam ekspetasi, menangis jinak dalam realita


Ranting yang telah patah

Telah gugur dalam lautan darah

Perjuangan penentu arah


Ingin berlari dan melompat tinggi?

Tanpa pernah disadari

Bangkai bernyawa telah gugur dengan ekspetasi

Telindas kejamnya rotasi

Sebuah kehidupan yang mati

Dalam sebuah angan yang telah dikebiri


Puisi ini hanya berupa tuangan

Genangan yang seolah menenggelamkan

Bertindak sebagai "ORANG"

Yang telah lama bosan

Menjadi bahan yang salah

Atas ekspetasi yang tak beralasan

Hanya karena berpegang realita

Tanpa dukungan yang menepuk pundak

Ataupun motovasi yang tak memberi arti pasti

Atas kebohongan yang menjadi pupuk ekspetasi

Menyuburkan batang kayu yang telah mati

Bangkai bernyawa yang lama terlambat memberi

Arti kehidupan pasti



Komentar

Postingan populer dari blog ini

23

A letter #12

A Story #2