LEMBARAN SURAT KESADARAN!
LEMBARAN SURAT KESADARAN
Apakah sebuah kejahatan,
Akan menjadi sebuah hiburan.
Apakah sebuah kejahatan,
Akan menjadi deretan.
Pengubur banyaknya kebaikan.
Lembaran bernomor sebagai takaran,
Untuk hukuman yang ringan.
Pernakah mereka mempertimbangkan?
Panjangnya deretan,
Hati baik berwajah setan.
Yang memutus ikatan,
Panjangnya garis kebaikan.
Hukum yang mereka tetapkan,
Tak sesuai dengan yang mereka katakan.
Akankah kerasnya teriakan,
Lirihnya rintihan,
Derasnya tangisan,
Dari kami yang mereka anggap rongsokan.
Salahkan semua tindakan,
Yang kami lakukan.
Malah mengikat bak rotan.
Menggantung leher menghapus getaran.
Karena semua berkedok keamanan.
Bagi mereka, hal itu sangatlah ringan.
Berjalan mulus tanpa lekukan.
Menjebak kami dengan belokan.
Tajamnya pisau yang kau tancapkan.
Pada tubuh kami yang lusuh kurang makan.
Tolong lihatlah kurangnya minuman,
Di negeri yang penuh lautan.
Masihkah mereka batasi pekerjaan,
Menyulitkan alur tabungan,
Menyempitkan keuangan,
Dari kami yang kekurangan.
Mereka tak pernah mendengarkan,
Tangisan pilu berisi keluhan.
Suara kami yang yang beriringan,
Bersama rumah tanpa lahan.
Yang mereka kubur dan dirikan,
Sebuah gedung bertuliskan kemajuan.
Apa yang mereka inginkan?
Membunuh kami yang sedang kesakitan?
Suara kami pun terlarutkan,
Oleh tajamnya keuangan.
Bagi mereka yang memiliki kekuasaan.
Inikah demokrasi diselimuti kerajaan?
Pemimpin dibuat mainan?
Pemimpin pun tak menguasai tatanan.
Bahkan menjadi ocehan.
Bagi kami yang kurang layanan,
Terbatas dalam berpesan.
Mendorong kami dalam aliran.
Memaksa kami memainkan peran,
Tentang boneka yang mereka bunuh perlahan.
Palsukah sebuah pendidikan?
Yang telah mereka tekankan,
Ataukah dibuat memaksakan?
Kepada kami tuk membenci golongan.
Tanpa mereka pikirkan masa depan,
Apakah kami akan tertelan?
Pada lihainya peranan.
Yang juga mereka mainkan.
Yang pada akhirnya menegaskan.
Pelan langkah menghancurkan.
Haruskah kami telan,
Rapihnya kepalsuan.
Yang bisa kami lakukan,
Adalah menyusuri kesesatan.
Walau sakit kami tahan,
Walau mustahil kami jalankan,
Walau pisau kau tancapkan,
Kami akan selalu bertahan
Demi kelangsungan kehidupan.
Hanyalah lembaran keresahan,
Yang kami sampaikan.
Akankah kami juga kau hilangkan,
Seperti lainnya yang telah mereka singkirkan?
Kami yang berani menyuarakan,
Sakitnya ketidakadilan,
Banyaknya ketidakpastian,
Dan masalah yang kami perjuangkan.
Kepada siapa kami tanyakan?
Apakah ini benar alur zaman?
Melindas kami yang sedang berangan-angan,
Menata dan merencanakan sebuah masa depan
Untuk anak kami yang kami harapkan,
Tuk menjadi cerdas dan meninggalkan
Tradisi lama yang mereka wariskan.
Permainan kebohongan.
Menghargai kami recehan.
Menganggap kami sebuah bongkahan,
Dari batu yang tergores aliran.
Batu yang perlahan mereka pecahkan,
Untuk mereka jadikan permainan
Kebisuan dibalik kebebasan.
Untuk kami yang ingin menyampaikan.
Mau sampai kapan,
Mereka merancang kebohongan?
Kebohongan halus untuk kami makan.
Yang akhirnya kami tuangkan,
Dalam lembaran surat kesadaran.
Bagi mereka yang sedang mewakilkan.
Bahkan dalam bidang kekayaan.
Apakah ini kejahatan,
Walau hanya berpesan?
Bagi mereka yang tak mau kritikan,
Dan ingin diberi saran.
Walau pada akhirnya, kami tetap dipenjarakan.
Tanpa sadar kami jauh terikat.
Kebohongan telah melekat.
Politik? Bukan lagi hebat,
Melainkan sebuah bakat.
Seperti tidur saat rapat.
Musyawarah hanyalah syarat,
Yang sudah sering dibuat-buat
Dan dapat dilakukan setiap saat.
Seakan-akan keseharian padat,
Walau perbuatan bagai pemadat.
Apakah sudah menjadi adat,
Untuk bertindak bagai lalat?
Pergi kerja terlambat, namun gaji berjadwal padat.
Pulang memikirkan rakyat?
Mana sempat?
Yang terpenting harta lebat,
Karena jadwal gaji yang ketat.
Pantaskah disebut psikopat?
Ataukah sosiopat?
Mereka perlu perawat?
Untuk menyembuhkan penyakit berat?
Bagai besi yang telah berkarat?
Lapuk dan lemah tanpa serat.
Bertindak bagai bermartabat,
Walau tugas mereka hanya menyayat
Dan membungkam rakyat.
Apakah kami hanyalah mayat?
Keperluan kami bagai penghambat,
Untuk meraih uang yang sesat.
Bersyair pun sudah keramat.
Kapankah mereka penat,
Tuk berbohong setiap saat?
Tak sadarkah mereka? Kami telah pucat!
Pekerjaan kami pun di hambat.
Kami berbelanja pun dicegat.
Apakah Pancasila hanya berisi empat?
Keadilan bagi seluruh rakyat,
Atau keadilan bagi seluruh wakil rakyat?
Bergelar wakil pun jarang amanat.
Kesengsaraan bukan lagi pengingat,
Tuk memenuhi kebutuhan rakyat.
Apa yang kami perbuat,
Sehingga kami dihukum berat?
Penyair dianggap pemadat.
Dikubur tanpa dicatat.
Ber-argumen pun dijerat,
Leher diikat rapat,
Tak bolehkah kami berpendapat?
Kenapa kebebasan engkau sunat?
Perlukah kami pahat?
Apakah kami tetap dianggap jahat?
Kami pun tersayat dan tak bisa berobat.
Sampai kapan kami harus taat?
Pada aturan yang membunuh rakyat.
Akankah mereka merenung,
Setelah telinga mereka berdengung
Karena sajak yang bingung?
Ketakutan yang bernaung.
Apakah kami akan terkarung?
Atau ditembak dalam sarung?
Negeri sendiri namun bagai pengunjung,
Kami berjalan berpayung bahkan terkurung.
Kapankah sang macan kembali meraung?
Berteriak gagah nan agung.
Kami pun berkalung, dilarang merenung
Haruskah kami pukul lesung?
Untuk memanggil kata beruntung.
Pendapat kami yang terbuntung?
Lama membusuk penuh belatung.
Mengapa kami terus tersandung,
Oleh tragedi yang terus bersambung?
Apakah semuanya terhubung?
Diam dikata kacung, bersuara malah dikarung.
Bagai sebuah panggung,
Tempat kami bergantung.
Hukum yang cembung dan cekung.
Kami bagai seekor lutung,
Yang tak pernah beruntung.
Di laut kepalsuan kami terapung-apung,
Berusaha mengambil gayung.
Walau kami hanya dipentung,
Hingga patah tulang punggung.
Yang diam tenggelam dalam palung,
Yang mengambang dipasung.
Dengan siapa kami bertarung?
Pemborong kampung atau tikus yang beruntung?
Haruskah kami diam barpatung?
Walau dicambuk hingga pipi hilang lesung?
Kami tak dapat berlari,
Karena hukum telah dikebiri.
Kemana kami harus mencari,
Manusia setengah peri.
Yang tak hanya berjanji,
Namun bertindak dengan pasti.
Sehingga hilang rasa iri.
Namun, semua tak berarti.
Keadilan telah mati.
Ritual mana yang perlu kami ikuti,
Untuk membangkitkan yang telah mati.
Berlakunya peraturan,
Tanpa adanya keadilan.
Hanya satu yang dapat dilakukan,
Yaitu menulis kajian yang mungkin dihiraukan.
Dalam sepucuk surat kesadaran,
Kami tuangkan dalam lamunan.
Akankah kami ditertawakan,
Oleh mereka yang punya kekuasaan?
Ataukah mereka akan terkesan,
Lalu sadar tentang kesalahan?
Kami pun terbalut ketakutan,
Untuk mengungkapkan kejujuran.
Kebohongan menjadi kebenaran.
Semua telah mereka siapkan,
Dalam drama tanpa kemakmuran.
Skenario yang berisi kejahatan,
Penuh dengan ancaman,
Yang jujur disingkirkan,
Yang berani dihilangkan,
Yang adil dilengserkan,
Peraturan dilemahkan,
Bersuara dikucilkan,
Kebenaran disembunyikan,
Mereka suapi kami dengan kebohongan.
Kami telah kenyang atas pelecehan.
Kami muak atas paksaan.
Pada dasarnya kamipun memiliki kesalahan.
Tentunya salah dalam menaruh kepercayaan,
Ataupun sebagai suara bayaran.
Sebagai sebuah persyaratan,
Dalam sebuah rajutan.
Langkah awal penghianatan.
Kami tak perlu gambar dan baleho!
Kami tak perlu foto dan video!
Kami tak perlu janji dan pidato!
Kami tak perlu semangkuk soto!
Kami hanya butuh tindakan.
Tindakan pasti tanpa kepalsuan.
Membuat 'mereka' berjalan,
Dengan kepala yang ditundukkan.
Karena tahu dan tersadarkan
Bahwa yang 'mereka' lakukan,
Adalah perbuatan yang memalukan.
Sebuah kebiadaban!
Bahkan 'mereka' mengajukan,
Sebuah Banding dan penawaran.
"Kejam" yang 'mereka' katakan.
Apakah kami kejam mengucapkan?
Apakah kami kejam mengungkapkan?
Bandingkan sebuah hinaan,
Dengan kebiadaban.
Iblis pun malu!
Setan pun tak tahu!
Neraka takkan cukup!
Hanya dengan berlutut
Dan tetesan palsu,
'Mereka' mengatakan rasa pilu.
Hinaan kami kejam dan tak bermutu.
Pantaskah 'mereka' bilang begitu?
Pantaskah 'mereka' berbuat seperti itu?
Kami lihat mereka tersenyum.
Keluar dari mobil dan pers yang menunggu.
Tak sadarkah tentang kisah saru.
Yang dilukiskan dengan kesejahteraan pecandu,
Merusak semangat tandu!
Melapukkan sebatang kayu
Tang patutnya dibuat tabuh,
Memukul kepala yang tak malu.
Lebih pantas dibandingkan jeruji gedung,
Yang lebih mewah dibanding pantai dan laut.
Komentar
Posting Komentar