Bukanlah Sebuah Puisi
Ketika aku merasa bahwa hidupku telah hancur berantakan, cahaya harapan kembali datang tuk menenangkan. Seorang wanita dengan banyak goresan, terluka, menangis, dengan hati penuh sayatan. Aku dan dia memiliki sebuah kisah yang sama, cerita cinta berakhir naas buat kami pasrah. Yang membedakan adalah dia berusaha bangkit walau perih dan aku hanya berlari seakan tak merasa pedih. Dia berusaha berdiri walau kakinya menolak, dia berusaha kuat walau hatinya menangis, dia berusaha tersenyum walau hancur perasaanya. Aku sebagai 'pria' hanya bertindak naif, ceroboh, dan serakah. Kusalahkan pihak yang tak seharusnya kusalahkan. Manusia yang menyakitiku, tetapi tuhan yang kubenci, alkohol dan racun menjadi pelarianku. Berkali-kali kucoba mengakhiri hidupku sendiri, dengan bodohnya aku berlari.
Dia menyadarkanku bahwa dibalik luka dan duka kan datang suka dan bahagia. Dia mengingatkanku bahwa masih ada harapan percaya kepada manusia. Dia menyadarkanku bahwa manusia takkan pernah menjadi wadah yang hampa. Dia menyadarkan perasaanku yang kubunuh, kupendam, kuinjak, kukurung dalam sebuah keadaan dimana aku berlari kencang tanpa melihat bahwa di dunia masih ada kasih sayang dan cinta. Dia membuat hidupku kembali memiliki kobaran api untuk melangkah maju, bukan berlari ceroboh yang pada akhirnya terjatuh. Dia membuatku percaya pada hatiku yang menolak semua perasaan dan berbohong pada diriku sendiri.
25 Mei 2022 aku bertemu dengannya. 17 jam setelah kucoba menelan timah panas, 32 jam setelah kusayat pergelangan tangan, 43 jam setelah kuminum racun, 61 jam setelah kembali kugantung diri, 86 jam setelah kuhajar tembok, beton, batu untuk melukai tanganku. Hanya dengan melihatnya aku tau bahwa aku adalah manusia lemah. Senyumnya yang berbalut luka membuatku merenung berlari dari tangis.
Awalnya ku berfikir untuk tetap berlari, tetapi hatiku mengingatkan bahwa ia adalah orang yang kusayang. Aku mencintainya. Yang kuinginkan hanyalah dia. Aku berdoa kepada tuhan yang pernah kusalahkan, "Persatukanlah hamba dengannya, Jadikan ia menjadi milik hamba. Bukakanlah kebaikan dari hamba untuknya dan bukakanlah kebaikan darinya untuk hamba. Persatukanlah kami. Persatukanlah kami. Persatukanlah kami."
Dia telah memberikan sesuatu yang membuatku semakin sayang, semakin cinta, semakin ingin melindunginya, semakin ingin memeluknya.
Tujh mein rab dikhta hai yaara mein kya karu.
Sora ga koboshita yasashisa dakara.
Komentar
Posting Komentar